Entries Tagged 'Personal' ↓
March 27th, 2008 — Personal

Ini bukan terjemahan dari novel Alexandre Dumas, Twenty Years After. Tetapi ini kisah dari saya dan teman-teman yang sempat terpisah sekitar 20 tahunan.
Bagi generasi sekarang, terdapat lebih banyak pilihan untuk berkomunikasi. Mulai dari sms sampai internet. Belum lagi ponsel 3G. Ditambah lagi dengan berbagai situs pertemanan seperti FriendSter ataupun Facebook. Belum lagi ditambah dengan berbagai situs blog.
Lha …. jaman saya dulu nggak demikian. Boro-boro mau ada internet atau sms. Telepon aja nggak merata.
Saya lulus dari SMA Negeri 1 Malang pada tahun 1987 ( he he … berarti sekarang sudah “veteran” ). Tahun segitu itu komunikasi tentu tidak seperti sekarang. Dulu mau telpon saja mesti nebeng ke orang-orang tertentu. .
Akibat sulitnya komunikasi, kami masih sering mengandalkan jasa surat-menyurat. Kalau ada berita urgent, kami biasa mengandalkan jasa telegram.
Waktu masih baru lulus SMA sih masih sering tulis surat. Tapi kan lama kelamaan males juga. Akhirnya komunikasi putus sama sekali.
Tidak terasa … sudah 20 tahun lebih kami ini lulus dari SMA. Selama itu pula kami jarang atau tidak pernah bertemu, oleh berbagai alasan. Kami juga tidak tahu kabar keberadaan kami masing-masing.
Sampai suatu ketika - hari Selasa lalu - saya bertemu dengan teman-teman tersebut. Kami membawa cerita kehidupan masing-masing - maklum - sudah 20 tahun tidak bertemu. Ada yang pindah-pindah dari Ambon dan Irian Jaya, ada yang dari Malang dan Pasuruan (Jawa Timur). Ada yang tetap di Jakarta seperti saya.
Ini sengaja saya tuliskan nama-nama orang yang ada pada foto diatas. Siapa tahu dicatat oleh search engine. Dari kiri ke kanan : Djunaidi Djoko Prasetyo, Dwi Setia Dharmawan, Raden Prabowo, Wicaksono. Semuanya lulusan tahun 1987 dari SMA Negeri 1 Malang.
Sahabat tetaplah sahabat. Walaupun kita terpisah selama 20 tahun - banyak perubahan yang terjadi - kita tetap saja bisa ngobrol enak seperti dulu.
Yang agak disesalkan adalah - mbok ya komunikasi bisa lebih lancar. Kalau jaman dulu telepon sudah banyak, atau internet sudah sepesat sekarang …. tentu kami tidak harus terpisah selama 20 tahun. Lama benerrrrr …..
March 10th, 2008 — Personal

Hari Jum’at kemaren kami jalan-jalan ke Saung Mang Udjo. Lokasi di daerah Cicaheum, Bandung.
Sebelumnya sih agak ogah juga … ngapain sih mau makan aja mesti jauh-jauh ke Saung Mang Udjo ?
Bukankah dimana-mana (juga di Jakarta) sudah banyak saung ?
Ternyata memang beda bung …
Yang dijual disini adalah pertunjukannya. Jadi pada saat-saat tertentu pengunjung akan disuguhi pertunjukan angklung, wayang golek dan tari/musik tradisional.
Kalau masalah makanan sih sepertinya biasa saja …. nggak istimewa.
Yang istimewa ya pertunjukannya itu.
Disana juga ada pertunjukan wayang golek yang disajikan secara singkat (sekitar 10 menit). Padahal, umumnya sih pertunjukan wayang golek bisa berjam-jam.
Pengunjung juga diberikan kesempatan untuk belajar angklung. Lumayan juga, jadi teringat masa waktu sekolah dulu.
Kalau sudah punya anak yang sekolah SD, bagus juga kok ke Mang Udjo. Untuk menambah wawasan tentang kesenian tradisional Indonesia.
Tapi kalau anaknya masih terlalu kecil, sepertinya agak bosen juga disana. Sampai saat ini (Maret 2008) tidak ada mainan anak-anak seperti ayunan, prosotan dll. Jadinya kalau masih terlalu kecil malah repot nguber-nguber bocah ……
December 3rd, 2007 — Personal
Ceritanya begini, beberapa hari yang lalu saya sakit sampai 2 hari nggak ngantor. Saat itu saya bingung, mau ke Rumah Sakit atau klinik rasanya males. Soalnya jauh, badan lemes dan kebetulan gak ada yang ngantar. Akhirnya saya putuskan untuk ke puskesmas dekat rumah.
Sebenarnya nggak ada masalah dengan puskesmas kalau sekedar mau obat dan sakitnya enteng-entengan saja.
Masalahnya, agak susah bagi masyarakat kalau mengharapkan diagnosa yang akurat dari puskesmas.
Kemaren waktu ke puskesmas badan saya nggak diperiksa sama sekali. Cuma ditanya : Yang sakit apanya ? Sudah minum obat atau belum ? Kalau makan sakit atau tidak ?
Sudah …. sekitar itu saja. Nggak ada pemeriksaan apa-apa, tahu-tahu saya dikasih resep.
Yang ingin saya sampaikan adalah : Kalau ke dokter (praktek di rumah) atau ke klinik biasanya orang sakit diperlakukan dengan lebih “manusiawi”. Misalnya dilihat bagian tubuh tertentu dan dilihat tanda fisik (bengkak … merah, pucat dll) atau diraba untuk memeriksa organ tubuh (apakah kalau dipegang rasanya sakit … atau keras). Pokoknya ada acara raba-meraba (atau minimal dilihat / didengar).
Lha … ini di puskesmas nggak diapa-apain … tahu-tahu dikasih resep. Kalau salah diagnosa bagaimana ?
Saya yakin, masih banyak dokter puskesmas yang bekerja tulus dan sungguh-sungguh. Mungkin hanya kebetulan saja saya yang mendapat pengalaman diperiksa “asal-asalan” seperti ini.
Tetapi alangkah malangnya seandainya banyak orang mendapatkan pengalaman serupa. Jangan-jangan masyarakat sudah terbiasa nrimo saja. Pokoknya kalau mau pelayanan bagus ya ke dokter yang praktek pribadi. Kalau mau ke puskesmas ya pelayanannya seperti itu …
Walaupun kondisi saya akhirnya membaik juga, toh rasanya agak kurang puas. Habis …. nggak diraba sih …. 