Bahagia 64 Hari Dalam Setahun

Happiness

Bila anda sangat mencintai pekerjaan anda, berbahagialah!

Berarti ada peluang bahwa hari-hari bahagia anda lebih banyak dari 64 hari dalam setahun.

Darimana angka 64 hari ini berasal ? Angka 64 ini memang hanya ilustrasi. Mungkin saja tidak sesuai dengan sebagian besar dari kita.

Dalam setahun, anda mendapat jatah libur berapa hari ? Sebagian diantara kita mungkin ada yang mempunyai hak libur selama sebulan penuh (30 hari). Tapi ada juga yang hanya punya hak libur 12 hari kerja.

Berapa hari anda libur dalam seminggu ? Sebagian ada yang hanya libur 1 hari. Sebagian lainnya mempunyai hak untuk libur 2 hari dalam seminggu.

Nah, jika seseorang hanya punya 12 hari libur dalam setahun. Dan juga ditambah 1 hari libur setiap minggunya (berarti 52 hari dalam setahun), maka dia punya hari libur sebanyak 64 hari. ( 52 + 12 ).

Masalah timbul bila dia tidak mencintai pekerjaannya. Bila setiap hari dia tidak menikmati hari-hari kerjanya, maka hanya disaat libur itulah dia berbahagia. Dengan demikan, dia hanya berbahagia selama 64 hari dalam setahun.

Bayangkan, hanya 64 hari dia merasa hidup ! Hari-hari lainnya dia lalui dalam rasa terpaksa dan kepenatan. Kalau dia punya 2 hari libur dalam seminggu ya .. lumayanlah …
bisa menambahkan 52 hari lagi sebagai hari-hari bahagia. Tapi initetap saja sedikit.

Jumlah hari bahagia seharusnya full 365 hari (atau 366 kalau tahun kabisat). Jadi, kalau ada yang hanya merasa bahagia 64 hari saja dalam setahun. Tentu dia membutuhkan pertolongan.

Jujur saja, saya juga pernah merasakan hal ini. Pernah selama beberapa waktu , saya merasakan hari Senin-Jumat rasanya benar-benar menyebalkan dan membosankan. Begitu masuk hari Jumat malam langsung terasa suasana TGIF (Thank God It’s Friday). Hari Sabtu - Minggu rasanya plong. Hari Senin rasanya
bete lagi.

Pertanyaannya, sampai kapan suasana nggak enak ini harus berlangsung ? Apakah
saya harus menjadi seseorang yang hanya bahagia waktu liburan ?

Ternyata resepnya gampang saja. Nggak harus jadi boss untuk memperbaiki
suasana kerja.

Yang saya lakukan adalah :

  • Memperbaiki PERSEPSI saya. Banyak masalah timbul dari persepsi. Suatu hal juga bisa dinilai buruk hanya dari persepsi. Saya mencoba mengamati apa saja hal-hal positif yang ada dalam pekerjaan saya. Begitu kita melihat banyak hal positif, biasanya rasa sebal akan menghilang.
  • Bersyukur. Ini hal wajib. Kalau saya membandingkan diri saya dengan pengusaha sukses yang kemana-mana naik jaguar, tentu ini sama dengan menyiksa diri sendiri. Jadi, ada benarnya juga pepatah lama bahwa kita harus selalu melihat ke bawah. Saya mencoba meyakinkan diri saya bahwa apapun juga pekerjaan saya, saya harus bersyukur bahwa saya mempunyai pekerjaan. Lha kalau nggak punya pekerjaan, mau bayar tagihan pakai apa ?

Masalah bersyukur ini sangat penting. Banyak hal yang karena sudah dianggap biasa, jadinya terlupa disyukuri.

  • Bersyukurlah dengan keadaan anda. Orang lain mungkin saja mempunyai kondisi yang lebih buruk dari keadaan anda.
  • Beryukur atas apa yang kita “miliki”. Orang lain mungkin saja harus berjuang lebih keras hanya untuk mencapai keadaan anda sekarang.

Pada akhirnya hanya ada 2 pilihan bagi anda yang kebetulan merasa bete dengan pekerjaannya

  • Keluar dari pekerjaan tersebut dengan segala konsekuensinya.
  • Tetap bertahan, tapi disertai perubahan sikap. Yaitu bersikap lebih positif dan mencintai pekerjaan tersebut.

Pilihannya memang hanya itu. Kalau tidak dilakukan, bisa-bisa kita menjadi orang yang berbahagia hanya sekian hari dalam setahun.

Sekali lagi, itu cuma pendapat saya. Mungkin saja anda - para pembaca- mempunyai pemahaman yang lebih baik lagi.

Salam

5 comments ↓

#1 anov on 11.27.07 at 2:16 pm

Setuju!
Ada beberapa yang mau saya tambahkan:
Persepsi saja tidak cukup. Harus konsisten dan persisten. Apalagi dalam dunia ini kita tidak sendirian. Persepsi orang lain bisa mempengaruhi persepsi kita. Hal yang paling mudah dilakukan adalah menolak persepsi orang, tetapi tindakan ini lemah, dan kalau terus-menerus dipapar oleh persepsi negatif lama-lama capek juga. Lebih efektif kalau kita bisa melihat sisi positif dari persepsi negatif orang lain. Tetapi tindakan ini sangat sulit dilakukan. Butuh kebijaksanaan dan pengalaman.
Bersyukur juga sulit jika kita sulit menerapkan pepatah “melihat ke bawah”. Bagaimana jika kita “terpaksa” bergaul dengan orang-orang di “atas” kita? Bagaimana bisa melihat ke “bawah” kalau kita berada di “tempat paling bawah”? :d
Yang bisa dilakukan adalah melirik ke atas dan coba pelajari, mengapa orang-orang itu bisa berada di “atas”? Mengapa kita tidak? Yang penting bisa menahan diri untuk tidak tergesa-gesa naik ke atas, karena kalau sampai jatuh, pasti sakit…

#2 CakBowo on 11.30.07 at 11:42 am

Mas Anov,

Terima kasih masukannya.
Comment anda saya quote :

Yang bisa dilakukan adalah melirik ke atas dan coba pelajari, mengapa orang-orang itu bisa berada di “atas”?

Oke juga. Terima kasih.

#3 edratna on 11.30.07 at 4:35 pm

Saya hanya melihat, semakin sibuk seseorang, dia juga semakin canggih dalam mengatur waktunya, makin efisien, dan bekerjanya juga lebih cepat.

Jadi sebetulnya tergantung hati dan motivasi kita, kalau orang yang suka bekerja, maka dia akan tetap menyenangi bekerja…kalau liburpun dia akan tetap melakukan hal-hal yang disenangi.

#4 Kombor on 11.30.07 at 6:14 pm

64 hari itu hanya 17% dari jumlah hari setahun. Kasihan banget dong orang macam itu.

BTW, Cak. Alamat RSS yang di feedburner bener atau tidak?

#5 cakbowo on 12.03.07 at 9:19 am

#Bu Enny :
Saya setuju bu. Terima kasih.

#Kang Kombor.
Kang, alamat rss bener kok. Bisa di klik.
Thanks.

Leave a Comment

:) :( :d :"> :(( :n/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »